Biji ditulis oleh kumpulan longgar para pemikir, perasa, pekerja komuter, pengamat kronis, dan filsuf dadakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti biji yang terbawa angin, suara-suara kami datang dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbesa, dan kekacauan hidup sehari-hari yang berbeda.
Ada yang menulis dari kantor, ada dari kafe, ada juga yang ngetik dari kasur jam 2 pagi — semuanya menanam ide-ide kecil yang tumbuh menjadi percakapan yang lebih besar.
Kami tidak berusaha terdengar penting — hanya jujur. Para kontributor kami menulis tentang hal-hal yang Indonesia bisikkan, bukan teriakkan: pola pacaran, mood fashion, tekanan keluarga, ritual internet, dan politik kecil yang bersembunyi di dalam kehidupan sehari-hari.
Biji tumbuh karena banyak tangan yang menanamnya. Tidak ada hierarki di sini, hanya suara-suara yang mencoba memahami dunia, satu artikel dalam satu waktu.